Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Maret 2010

Snack Isi Kertas

Beberapa hari yang lalu aku pergi bersama temanku ke sebuah mall di daerah Jakarta Selatan, sebut saja namanya Citos. ^^ Kebiasaan window shopping memang sudah menjadi salah satu hobi kami. Walaupun tidak ada barang yang dibeli, kami pun tetap menunaikan kesenangan dalam menyalurkan salah satu hobi kami tersebut (hahaha, maklumlah wanita..). Setelah capek muter-muter liat barang-barang diskonan dan coba ini itu, akhirnya kami merasa perut kami terasa “krucuk-krucuk” alias kelaperan. Daripada pingsan di mall akhirnya kami memutuskan untuk survey makanan yang “pas” diperut and dikantong (yaa...mendekati sesuai dan tidak melebihi batas normal yang ekstrim, hehehe..maklumlah masih berstatus pengangguran, hihi..).
Snack "penutup" gratis yang berisi lembaran kertas.. Awas jangan sampai ikut dimakan yaaah.. hihihi... ;p

Emm, tempat makan di Citos ini memang cenderung mahal sih.. (soalnya tempat makan fast food sejuta umat jarang ditemukan dsini, paling-paling cuma ada AW saja..), so setelah melihat semua daftar menu yang terpampang akhirnya kami memutuskan untuk makan di suatu tempat yang kebanyakan menunya berupa “noodles”, mulai dari mie ayam berbagai rasa hingga kwetiau. Ada juga sih nasgor, nasi siram, laksa singapore dan sop. Emm, setelah aku amat-mengamati sih sepertinya makanannya ala Cina kali yah. Kami memesan Mie Ayam Canton dan Mie Ayam Chopstik serta Wonton Soup.. (hemm, menu yang paling terjangkau deh.. hahaha...). Emm, tapi ternyata harga sesuai dengan rasa.. Enak koq... Umm, apa karena kami sedang lapar sekali yah? Hihi..

Nah yang paling asik nih, setelah kami membayar billnya, eh kami disuguhkan masing-masing snack kering yang dibungkus plastik (gratis..hihi). Wah mungkin sebagai thankful snack kali yah karena kami sudah makan di sana. (humm, so nice...). Lebih unik lagi ternyata di dalam snack tersebut terdapat selembar kertas kecil yang agak memanjang (seperti kertas ibu-ibu arisan itu loh..) yang bertuliskan sebuah kalimat. Wow, percaya atau tidak.. koq kebetulan sekali yah isi kalimat itu sesuai dengan apa yang aku dan temanku alami. Hihihi.... I forget what my friend got exactly, but i got : “Sometimes travel to new places leads to great transformation”. A suggestion paper.... what does your cookie say?? Hohoho..... Tebak-tebak berhadiah yuukk...

Humm... tau aja yah memang aku akan pergi ke suatu tempat baru. It suggest me to take some new preparations in order to face a great transformation, right? Ingin mencoba snack isi kertas? Silakan makan di Chopstick, enjoy your food, pay the bill and get a snack with a paper inside. Semoga mendapatkan sugesti yang baik yah... ^^

Selasa, 16 Februari 2010

Jalan-jalan ke Kraton Pakualaman

Hemm, memang enak jadi "pengacara" alias pengangguran banyak acara. Berasa liburan terus setiap hari, hihi... Demi menikmati suasana stay cool di Jogja, aku dan tiga temanku memutuskan untuk singgah ke Kraton Pakualaman yang terletak di depan alun-alun Pakualaman (Laah.. ya iyalah..) hihi.. Eh, tepatnya nih di jalan Sultan Agung, sekitar 2 km timur Kraton Yogyakarta.

Awalnya kami ragu apakah Kraton Pakualaman ini bisa dikunjungi oleh umum. Eh ternyata Kraton ini bisa dikunjungi di hari Minggu, Selasa dan Kamis dari jam 09.30-13.30. (wah, kenapa yah hanya hari-hari tertentu saja? Haduuh lupaa nanya dengan Abdi dalemnya kemariin.. -_- huhu..). Kraton Pakualaman mungkin tidak begitu berkesan dan dikenal oleh sebagian orang, namun Kraton Pakualaman yang hanya memiliki satu alun-alun yang kecil dan tidak seluas Kraton Yogyakarta ini sebenarnya juga menyimpan banyak sejarah dan menarik juga untuk dikunjungi (sekedar jalan-jalan di waktu luang bagi para pecinta budaya). Kraton Pakualaman ini merupakan Istana Kadipaten tempat tinggal bagi Adipati Kraton Yogyakarta yang seluruh generasinya bergelar Paku Alam. Adipati itu merupakan pejabat kerajaan setingkat Perdana Menteri.

Saat memasuki gerbang Kraton kami disambut oleh beberapa orang penjaga (ada yang masih muda dan ada yang sudah mbah-mbah gitu..). Kompleks Kraton sangat sepi pada saat itu, oleh karena itu kami dipandu oleh salah satu Abdi Dalem untuk diajak berjalan-jalan sebentar (biar kami tidak nyasar hehe..). Bangunan utama dari kompleks Kraton ini adalah Pendopo atau Bangsal Utomo Sewotomo, yang mempunyai 4 pilar yang terbuat dari kayu jati di tengahnya (sayangnya, kami dilarang masuk dan menaiki Pendopo, sehingga kami hanyalah bisa melihat Pendopo tersebut dari jauh.. Mendekatinya saja tidak berani hihi..) dan Dalem Ageng Proboyekso. Penggunaan kata ‘Dalem’ menandakan fungsi bangunan sebagai ruangan utama istana.

Kemudian,setelah berjalan-jalan sedikiit.. tibalah saatnya kami memasuki museum Kraton yang terletak di depan Pendopo bagian sebelah kanan kompleks Kraton. Heem, untuk memasuki dan menikmati isi museum dengan puas kami hanya mengisi buku daftar pengunjung dan membayar uang seikhlasnya saja.. (tidak ada patokan tarif khusus bagi pengunjung) Selain itu, bapak guidenya baik dan ramah pula.. Waah, senangnya...^_^

Museum Kraton Pakualaman ini berisi segala hal yang berhubungan dengan sejarah puro. Salah satu benda yang disimpan di dalam museum adalah bukti “Perjanjian Politik” dengan penguasa Inggris dan Belanda yang menandai terbentuknya Kadipaten Pakualaman. Selain itu juga terdapat silsilah kerajaan dan koleksi foto-foto raja Paku Alam secara lengkap. Ada juga beberapa atribut-atribut raja, seperti Payung Tlacap, yang melambangkan raja atau penguasa besar, dan rebab atau biola yang melambangkan awal dan akhir kehidupan, senjata perang, pakaian adat yang digunakan pada beberapa acara (misalnya pertunjukan sendratari, pernikahan, ataupun acara kerajaan lainnya), peralatan dapur (yang serba besar) dan perlengkapan adat siraman maupun nujuh bulanan serta koleksi kereta kerajaan, seperti Kyai Manik Kumolo dan Kyai Roro Kumenyar.

Perlatan dapur yang serba besar.. Cukup untuk masak makanan satu kampung sepertinya...

Setelah puas melihat-lihat isi museum, akhirnya kami meneruskan "perjalanan" menuju ke sebuah bangunan di sebelah kanan Pendopo, yaitu sebuah rumah berwrna putih dan cantik yang merupakan hadiah dari Sri Paku Buwono X (Surakarta) untuk menantunya, Sri Paku Alam VII. Ternyata, rumah tersebut memiliki nama, yaitu Purworetno (kayak nama orang yah?). Di depan Purworetno ada pohon rimbun yang memiliki buah berbentuk bulaaat dan besar. Hemm, diantara kami tidak ada yang mengetahui jenis pohon apakah itu... huhu... (maklum kami kurang bergaul dengan jenis pohon-pohonan, hehe..)

Akhir dari persinggahan kami di kompleks Kraton Pakualaman, ditutup dengan melakukan shalat ashar di Masjid Gede Pakualaman yang terletak di sebelah kiri kompleks Pakualaman. Masjid yang menjadi bangunan cagar budaya Yogyakarta ini dibangun oleh Paku Alam II sekitar akhir abad XIX. Wow, bisa kalian bayangkan betapa lamanya umur masjid ini. Emm, sepertinya aku suka deh shalat di mesjid ini.. Suasana "tua"nya masih terasa.. ^^

Terakhir, enaknya sih setelah selesai berkunjung di Kraton dan shalat di mesjid Pakualaman, sembari menikmati suasana Kraton yang masih tersisa, enaknya makan rujak es krim yang terdapat tepat di depan Kraton, di lapangan alun-alun. Rujak es krim ini terkenal ramai, enak dan murah. Tapi sayangnya, karena saat itu gerimis dan didukung pula perut kami sudah terasa lapar, meluncurlah kami menuju ke arah Jl. Taman Siswa untuk melanjutkan persinggahan kami selanjutnya di tempat makan. Hehehe...

Oh ya, menurut info yang beredar, alun-alun Pakualaman ini akan berubah manjadi tempat nongkrong ramai-ramai bersama teman saat malam hari. Biasanya obrolan hangat dan ringan akan terasa semakin seru jika ditemani dengan minuman teh poci gula batu, wedang ronde, cemilan baceman ataupun jadah bakar. Heemm, aku sih belum pernah mencoba nongkrong disana.. Emm, tapi sepertinya tidak ada salahnya nih membuat jadwal persinggahanku selanjutnya untuk akan menuju ke sana suatu malam nanti.. ^^ Mau ikut teman??

Senin, 08 Februari 2010

Berkunjung ke Museum Batik Yogyakarta

Apakah yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata Batik? Oldish, kondangan, Jawa, lagi ngetrend, Unesco, atau sekedar salah satu kebudayaan di Indonesia?

Bagiku, kesan pertama saat mendengar dan membayangkan batik adalah oldish, formal, dan Jawa banget (walaupun di Sumatra juga ada batik, hehe..). Hehehe... dulu, aku tidak suka kalau disuruh ibu memakai baju batik, wah rasanya seperti mau kondangan saja. Namun, sejak kuliah akhirnya saya menyadari ternyata make batik OK juga yah, hehe.. (habis, di Jogja banyak banget yang jual batik..udah gitu hari Jumat di kampus pada make batik..ketularan deh..). Yaah, sekarang zaman telah berkembang, pergantian mode dan kultur budaya semakin cepat menyatu, dan setelah semaraknya usaha untuk mempertahankan nilai budaya (trauma dengan peng-atasnama-an beberapa kesenian oleh negara tetangga), akhirnya penetapan batik sebagai salah satu budaya Indonesia oleh Unesco semakin memperkuat citra indah dari batik. Kini, tidak ada lagi kesan kuno atau jadul yang terbayang saat mendengar kata Batik. Mode berkembang cepat dan masyarakat menyukai baju batik untuk dipakai di tiap aktivitasnya, mulai dari resepsi, ke kantor, kuliah ataupun ke mall dan liburan. Siiplah kalau begitu... :)

Sedikit rasa ketertarikan terhadap batik didukung pula oleh rasa ingin puas "berpetualang" mendatangi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelum migrasi permanen dari Jogja :) Akhirnya aku dan lima temanku mendatangi MuseumBatik Yogyakarta. Wow, dilihat dari namanya sih aku sudah membayangkan tempatnya menarik dan tingkat budayanya tinggi. Ternyata, memang benar.. Museum yang berada di Jl. Soetomo no 13 A, Yogyakarta (daerah dekat dengan bioskop mataram) ini merupakan museum pribadi pasangan suami istri Ibu Dewi dan Bapak Hadi Nugroho yang telah dikelola kurang lebih selama 28 tahun. Oia, kalian jangan kaget jika melihat kondisi museum yang sederhana, hal ini disebabkan karena ternyata pemerintah tidak memberikan subsidi tambahan (bantuan diberikan hanya di awal saja, berupa lemari-lemari penyimpanan batik). Jadi, Ibu dan Pak Hadi sangat mengusahakan penuh untuk mengembangkan dan merenovasi museumnya secara mandiri.
*Haduuw, gmn kebudayaan kita bs maju kalau tidak dihargai secara penuh....? :(

Kami hanya membayar 15 ribu untuk dapat masuk dan melihat-lihat isi museum sepuasnya, karena kebetulan sekali Bapak Hadi secara langsung menjadi guide kami sehingga kami bebas bertanya-tanya sesuka hati. Pak Hadi pun dengan ramah menjawab dan bercerita tentang sejarah dan proses pembuatan, koleksi serta alat-alat yang digunakan dalam pembuatan batik tulis dan cap. Woow, ternyata menarik juga yah.. dan rumit sekali pembuatannya, memerlukan daya kreativitas dan ketekunan tingkat tinggi. Oleh karena itu, tidak salah kalau batik itu sangat bernilai seni tinggi.. (setujuu!)

Museum batik ini berisi berbagai macam koleksi batik dari beberapa daerah, mulai dari batik yang berasal dari Jogjakarta, Pekalongan, Solo, Kebumen dan Banyumas. Warna dan corak batik dari setiap daerah berbeda pula, hal ini yang menjadi ciri khas dari si Batik. Umumnya batik dari Jogjakarta cenderung gelap (coklat dengan dasar warna putih), batik Solo cenderung kekuningan, batik Pekalongan lebih berwarna terang dan beraneka macam, sedangkan batik Kebumen dan Banyumas berwarna tegas. Variasi tanggal pembuatannya pun beraneka ragam. (umumnya yang terlihat sih batik-batik yang dibuat dari tahun yang lamaa.. hebat!). Batik yang dibuat pada tahun 1700-an pun masih ada dan tersimpan dengan baik, warnanya pun masih cukup bagus terlihat. Sangat menarik.. ^^

Heem, yang kurang dari wisata kami adalah tidak bisanya kami foto-foto mengabadikan keberadaan kami di museum tersebut sekaligus "menarsiskan" diri, hehe... Salah satu peraturan yang dilberlakukan di museum ini adalah Tidak Boleh Memotret. Ternyata, menurut Pak Hadi salah satu alasan tidak boleh memotret dalam museum karena warna batik sangat dipengaruhi oleh cahaya. Jika sering terkena cahaya maka dapat menyebabkan warna batik menjadi "mbladus" atau pudar. Oleh karena itu, jika tidak ada pengunjung maka lampu-lampu yang terdapat dalam museum ini dimatikan. Wah, pantas saja.. semakin sering kami berfoto semakin putih kulit kami tapi semakin pudar baju yang kami pakai, hahaha....

Hayuuk, kunjungi museum Batik Yogyakarta.. walaupun terkesan oldish tapi siiph buat menambah pengetahuan kebudayaan kita. Mumpung di Jogja tidak ada salahnya mampir ke Museum Batik.. lebih Ok lagi, kalau punya waktu senggang n sense of art nya tinggi, seru juga loh ikut kursus membatik bareng Pak Hadi Nugroho, hohoho.... ^^

Selasa, 02 Februari 2010

Be Creative... *part One..

"Haduuh, yg penting PeDe aja lagiii...sesuatu yang kita pake walopun awalnya berasa aneh tapi klo PeDe itu nanti jd keliatan bagus koq..", seru salah satu bestfriendku.

Hal ini bermula dari keinginanku yang sempat terpendam bertahun-tahun yang lalu. Selama ini rasa ingin tampil chicky selalu ada, misalnya saja dengan memakai pernak-pernik girly, salah satunya kalung-kalung yang bisa menimbulkan tampilan yang manis, casual atau anggun dan elegan. Tapiii, sejak kuliah tidak tau kenapa rasanya tidak percaya diri memakai hal-hal semacam itu..(mungkin karena sudah tidak terbiasa lagi pakai-memakai aksesoris sejak kuliah di Jogja, hahaha...apalagi di Jogja dengan tampil sederhana and simpel dah ok banget tuh buat jadi kostum hang-out dengan teman-teman.. ^^). Naaah, sejak pergi bersama bestfriend ke sebuah toko pernak-pernik khusus wanita..akhirnya aku memutuskan untuk berani mencoba menambah aksesoris ke dalam penampilanku...like wear a long necklace.. hoho... Ternyataa, Ok juga... :D

Beranjak dari hobi mengkoleksi beberapa kalung panjang (yaah, sebagian besar berjenis kalung rantai panjang *aku kan berjilbab, jadi tidak mungkin donk koleksi kalung yang pendek), maka terlintas dalam pikiran ingin iseng-iseng mencoba membuat kalung panjang ala suka-suka hati.. Itung-itung bisa berfungsi untuk menambah kesibukan saat-saat kosong tidak ada kerjaan (maklum..fresh graduated yang berstatus jobseeker, hehe!). Yaph, dengan niat yang kuat dan imajinasi cukup agak tinggi lumayanlah bisa menciptakan tiga buah kalung di awal project trial and success.. Lumayaan... ;)



Lihaaat....
Tiga kalung itu merupakan hasil bikinan sendiri loh! Yaa, cukup simple untuk seorang pemula..(aku yakin kalian semua bisa membuatnya juga). Aku baru mencoba membuat tiga kalung dulu untuk saat ini karena sebelum kita memutuskan untuk berkreasi ternyata perhitungan modal dan bahan cukup harus dipertimbangkan. Alasannya kan dengan bermodal bikin sendiri diusahakan 'modal'nya lebih sedikit daripada beli di mall. Selain itu, perlu pemilihan bahan yang tepat agar sesuai dengan rancangan unik yang sesuai hati. Hemm, besok ingin coba bikin kalung lagi deh, selain menyalurkan hobi, mengasah kreatifitas, dan menghambat timbulnya rasa malas-malasan siapa tahu saja bisa sebagai awal mula persiapan karir menjadi ibu rumahtangga yang kreatif (deuuw...siap menjadi ibu rumahtangga nih? hihi..).