Hemm, memang enak jadi "pengacara" alias pengangguran banyak acara. Berasa liburan terus setiap hari, hihi... Demi menikmati suasana stay cool di Jogja, aku dan tiga temanku memutuskan untuk singgah ke Kraton Pakualaman yang terletak di depan alun-alun Pakualaman (Laah.. ya iyalah..) hihi.. Eh, tepatnya nih di jalan Sultan Agung, sekitar 2 km timur Kraton Yogyakarta.
Awalnya kami ragu apakah Kraton Pakualaman ini bisa dikunjungi oleh umum. Eh ternyata Kraton ini bisa dikunjungi di hari Minggu, Selasa dan Kamis dari jam 09.30-13.30. (wah, kenapa yah hanya hari-hari tertentu saja? Haduuh lupaa nanya dengan Abdi dalemnya kemariin.. -_- huhu..). Kraton Pakualaman mungkin tidak begitu berkesan dan dikenal oleh sebagian orang, namun Kraton Pakualaman yang hanya memiliki satu alun-alun yang kecil dan tidak seluas Kraton Yogyakarta ini sebenarnya juga menyimpan banyak sejarah dan menarik juga untuk dikunjungi (sekedar jalan-jalan di waktu luang bagi para pecinta budaya). Kraton Pakualaman ini merupakan Istana Kadipaten tempat tinggal bagi Adipati Kraton Yogyakarta yang seluruh generasinya bergelar Paku Alam. Adipati itu merupakan pejabat kerajaan setingkat Perdana Menteri.Saat memasuki gerbang Kraton kami disambut oleh beberapa orang penjaga (ada yang masih muda dan ada yang sudah mbah-mbah gitu..). Kompleks Kraton sangat sepi pada saat itu, oleh karena itu kami dipandu oleh salah satu Abdi Dalem untuk diajak berjalan-jalan sebentar (biar kami tidak nyasar hehe..). Bangunan utama dari kompleks Kraton ini adalah Pendopo atau Bangsal Utomo Sewotomo, yang mempunyai 4 pilar yang terbuat dari kayu jati di tengahnya (sayangnya, kami dilarang masuk dan menaiki Pendopo, sehingga kami hanyalah bisa melihat Pendopo tersebut dari jauh.. Mendekatinya saja tidak berani hihi..) dan Dalem Ageng Proboyekso. Penggunaan kata ‘Dalem’ menandakan fungsi bangunan sebagai ruangan utama istana.
Kemudian,setelah berjalan-jalan sedikiit.. tibalah saatnya kami memasuki museum Kraton yang terletak di depan Pendopo bagian sebelah kanan kompleks Kraton. Heem, untuk memasuki dan menikmati isi museum dengan puas kami hanya mengisi buku daftar pengunjung dan membayar uang seikhlasnya saja.. (tidak ada patokan tarif khusus bagi pengunjung) Selain itu, bapak guidenya baik dan ramah pula.. Waah, senangnya...^_^
Museum Kraton Pakualaman ini berisi segala hal yang berhubungan dengan sejarah puro. Salah satu benda yang disimpan di dalam museum adalah bukti “Perjanjian Politik” dengan penguasa Inggris dan Belanda yang menandai terbentuknya Kadipaten Pakualaman. Selain itu juga terdapat silsilah kerajaan dan koleksi foto-foto raja Paku Alam secara lengkap. Ada juga beberapa atribut-atribut raja, seperti Payung Tlacap, yang melambangkan raja atau penguasa besar, dan rebab atau biola yang melambangkan awal dan akhir kehidupan, senjata perang, pakaian adat yang digunakan pada beberapa acara (misalnya pertunjukan sendratari, pernikahan, ataupun acara kerajaan lainnya), peralatan dapur (yang serba besar) dan perlengkapan adat siraman maupun nujuh bulanan serta koleksi kereta kerajaan, seperti Kyai Manik Kumolo dan Kyai Roro Kumenyar.
Perlatan dapur yang serba besar.. Cukup untuk masak makanan satu kampung sepertinya...Setelah puas melihat-lihat isi museum, akhirnya kami meneruskan "perjalanan" menuju ke sebuah bangunan di sebelah kanan Pendopo, yaitu sebuah rumah berwrna putih dan cantik yang merupakan hadiah dari Sri Paku Buwono X (Surakarta) untuk menantunya, Sri Paku Alam VII. Ternyata, rumah tersebut memiliki nama, yaitu Purworetno (kayak nama orang yah?). Di depan Purworetno ada pohon rimbun yang memiliki buah berbentuk bulaaat dan besar. Hemm, diantara kami tidak ada yang mengetahui jenis pohon apakah itu... huhu... (maklum kami kurang bergaul dengan jenis pohon-pohonan, hehe..)
Akhir dari persinggahan kami di kompleks Kraton Pakualaman, ditutup dengan melakukan shalat ashar di Masjid Gede Pakualaman yang terletak di sebelah kiri kompleks Pakualaman. Masjid yang menjadi bangunan cagar budaya Yogyakarta ini dibangun oleh Paku Alam II sekitar akhir abad XIX. Wow, bisa kalian bayangkan betapa lamanya umur masjid ini. Emm, sepertinya aku suka deh shalat di mesjid ini.. Suasana "tua"nya masih terasa.. ^^
Terakhir, enaknya sih setelah selesai berkunjung di Kraton dan shalat di mesjid Pakualaman, sembari menikmati suasana Kraton yang masih tersisa, enaknya makan rujak es krim yang terdapat tepat di depan Kraton, di lapangan alun-alun. Rujak es krim ini terkenal ramai, enak dan murah. Tapi sayangnya, karena saat itu gerimis dan didukung pula perut kami sudah terasa lapar, meluncurlah kami menuju ke arah Jl. Taman Siswa untuk melanjutkan persinggahan kami selanjutnya di tempat makan. Hehehe...
Oh ya, menurut info yang beredar, alun-alun Pakualaman ini akan berubah manjadi tempat nongkrong ramai-ramai bersama teman saat malam hari. Biasanya obrolan hangat dan ringan akan terasa semakin seru jika ditemani dengan minuman teh poci gula batu, wedang ronde, cemilan baceman ataupun jadah bakar. Heemm, aku sih belum pernah mencoba nongkrong disana.. Emm, tapi sepertinya tidak ada salahnya nih membuat jadwal persinggahanku selanjutnya untuk akan menuju ke sana suatu malam nanti.. ^^ Mau ikut teman??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar