Senin, 08 Februari 2010

Berkunjung ke Museum Batik Yogyakarta

Apakah yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata Batik? Oldish, kondangan, Jawa, lagi ngetrend, Unesco, atau sekedar salah satu kebudayaan di Indonesia?

Bagiku, kesan pertama saat mendengar dan membayangkan batik adalah oldish, formal, dan Jawa banget (walaupun di Sumatra juga ada batik, hehe..). Hehehe... dulu, aku tidak suka kalau disuruh ibu memakai baju batik, wah rasanya seperti mau kondangan saja. Namun, sejak kuliah akhirnya saya menyadari ternyata make batik OK juga yah, hehe.. (habis, di Jogja banyak banget yang jual batik..udah gitu hari Jumat di kampus pada make batik..ketularan deh..). Yaah, sekarang zaman telah berkembang, pergantian mode dan kultur budaya semakin cepat menyatu, dan setelah semaraknya usaha untuk mempertahankan nilai budaya (trauma dengan peng-atasnama-an beberapa kesenian oleh negara tetangga), akhirnya penetapan batik sebagai salah satu budaya Indonesia oleh Unesco semakin memperkuat citra indah dari batik. Kini, tidak ada lagi kesan kuno atau jadul yang terbayang saat mendengar kata Batik. Mode berkembang cepat dan masyarakat menyukai baju batik untuk dipakai di tiap aktivitasnya, mulai dari resepsi, ke kantor, kuliah ataupun ke mall dan liburan. Siiplah kalau begitu... :)

Sedikit rasa ketertarikan terhadap batik didukung pula oleh rasa ingin puas "berpetualang" mendatangi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelum migrasi permanen dari Jogja :) Akhirnya aku dan lima temanku mendatangi MuseumBatik Yogyakarta. Wow, dilihat dari namanya sih aku sudah membayangkan tempatnya menarik dan tingkat budayanya tinggi. Ternyata, memang benar.. Museum yang berada di Jl. Soetomo no 13 A, Yogyakarta (daerah dekat dengan bioskop mataram) ini merupakan museum pribadi pasangan suami istri Ibu Dewi dan Bapak Hadi Nugroho yang telah dikelola kurang lebih selama 28 tahun. Oia, kalian jangan kaget jika melihat kondisi museum yang sederhana, hal ini disebabkan karena ternyata pemerintah tidak memberikan subsidi tambahan (bantuan diberikan hanya di awal saja, berupa lemari-lemari penyimpanan batik). Jadi, Ibu dan Pak Hadi sangat mengusahakan penuh untuk mengembangkan dan merenovasi museumnya secara mandiri.
*Haduuw, gmn kebudayaan kita bs maju kalau tidak dihargai secara penuh....? :(

Kami hanya membayar 15 ribu untuk dapat masuk dan melihat-lihat isi museum sepuasnya, karena kebetulan sekali Bapak Hadi secara langsung menjadi guide kami sehingga kami bebas bertanya-tanya sesuka hati. Pak Hadi pun dengan ramah menjawab dan bercerita tentang sejarah dan proses pembuatan, koleksi serta alat-alat yang digunakan dalam pembuatan batik tulis dan cap. Woow, ternyata menarik juga yah.. dan rumit sekali pembuatannya, memerlukan daya kreativitas dan ketekunan tingkat tinggi. Oleh karena itu, tidak salah kalau batik itu sangat bernilai seni tinggi.. (setujuu!)

Museum batik ini berisi berbagai macam koleksi batik dari beberapa daerah, mulai dari batik yang berasal dari Jogjakarta, Pekalongan, Solo, Kebumen dan Banyumas. Warna dan corak batik dari setiap daerah berbeda pula, hal ini yang menjadi ciri khas dari si Batik. Umumnya batik dari Jogjakarta cenderung gelap (coklat dengan dasar warna putih), batik Solo cenderung kekuningan, batik Pekalongan lebih berwarna terang dan beraneka macam, sedangkan batik Kebumen dan Banyumas berwarna tegas. Variasi tanggal pembuatannya pun beraneka ragam. (umumnya yang terlihat sih batik-batik yang dibuat dari tahun yang lamaa.. hebat!). Batik yang dibuat pada tahun 1700-an pun masih ada dan tersimpan dengan baik, warnanya pun masih cukup bagus terlihat. Sangat menarik.. ^^

Heem, yang kurang dari wisata kami adalah tidak bisanya kami foto-foto mengabadikan keberadaan kami di museum tersebut sekaligus "menarsiskan" diri, hehe... Salah satu peraturan yang dilberlakukan di museum ini adalah Tidak Boleh Memotret. Ternyata, menurut Pak Hadi salah satu alasan tidak boleh memotret dalam museum karena warna batik sangat dipengaruhi oleh cahaya. Jika sering terkena cahaya maka dapat menyebabkan warna batik menjadi "mbladus" atau pudar. Oleh karena itu, jika tidak ada pengunjung maka lampu-lampu yang terdapat dalam museum ini dimatikan. Wah, pantas saja.. semakin sering kami berfoto semakin putih kulit kami tapi semakin pudar baju yang kami pakai, hahaha....

Hayuuk, kunjungi museum Batik Yogyakarta.. walaupun terkesan oldish tapi siiph buat menambah pengetahuan kebudayaan kita. Mumpung di Jogja tidak ada salahnya mampir ke Museum Batik.. lebih Ok lagi, kalau punya waktu senggang n sense of art nya tinggi, seru juga loh ikut kursus membatik bareng Pak Hadi Nugroho, hohoho.... ^^

2 komentar:

  1. Nice inpoh, sis...
    Kalo batiknya Cina emang kaya gimana? Secara visual keliatan bedanya ga?

    BalasHapus
  2. Batik cina? coraknya yg khas dan warnanya yg beda dengan batik dari jogja dan pekalongan. Cenderung seperti batik pesisir (dari pekalongan, misalnya..) Batik pesisir kan terpengaruh oleh budaya pedagang (Cina), sama-sama memiliki warna yang cerah. Namun, batik Cina selain memiliki warnanya lebih cerah (misal warna merah atau biru) tapi memiliki motif Cina pula, seperti naga atau bunga (flora). Emm, tapi ebih OK an batik Indonesia loh, bro.. ;)

    BalasHapus